Sejarah Desa

Kadudamas diambil dari salah satu nama daerah pertanian di desa kami, Tepatnya di Kp. Cigintung Sebrang RT 018 RW 007. Desa Kadudamas  merupakan Desa Induk dari pemekaran dengan Desa Cempaka yang lebih dikenal dengan Unit 1. Pada awalnya Desa Kadudamas merupaka satu wilayah desa yang sangat luas. Seiring dengan perkembangan waktu, jumlah penduduk serta kebutuhan akan pelayanan masyarakat yang lebih efektif dan efisien maka pada Tahun 1987 Desa Kadudamas dimekarkan menjadi 2 (dua) Desa, yaitu Desa Kadudamas sebagai desa asal atau Desa induk dan Desa Cempaka sebagai Desa pemekaran.

Ketika itu banyak desakan dari berbagai tokoh dan elemen masyarakat terutama yang berasal dari unit 2 wilayah Cempaka untuk segera dilakukan pemekaran. dan pada puncaknya atas perjuangan dan gagasan-gagasan para tokoh terbentuklah pemekaran desa sebagaimana yang diharapkan. pada masa itu Pemerintahan Desa dipimpin oleh Kepala Desa Bapak SARIP dan Sekretaris Desa dijabat oleh ACEP JUNAEDI. Setelah terjadi pemekaran Kepala Desa Kadudamas masih tetap SARIP dan Bapak ACEP JUNAEDI menjadi PJ. Kepala Desa Cempaka..

Pada perkembangan selanjutnya Desa kadudamas telah beberapakali mengalami pergantian kepemimpinan Kepala Desa, setelah H. Ridam, digantikan oleh Bapak Saripudin kemudian digantiaka oleh Bapak Marta Obing Sofyan selama dua Priode, setelah itu puncuk pimpinan di Desa Kadudamas diduduki oleh Bapak Lukman, dan beliau menjabat sampai sekarang.

Ada dua kejadian yang sangat kelam di sejarah Desa Kadudamas, pertama pada masa terjadinya pemberontakan Tentara Islam Indonesia (TII) Tahun 1960-an meskipun pusat terjadinya pemberontakan Jawa Barat, namun beberapa kelompok militan dari organisasi itu sampai juga ke Desa Kadudamas. Awal kedatangannya kelompok ini tidak banyak hanya beberapa orang saja, mereka mencoba menerapkan sariat Islam, dengan meramaikan mesjid dan ceramah-ceramah keagamaan. Tidak sedikit masyarakatpun banyak yang terbujuk dan tertarik atas ajakan mereka, kemudian masuk pada kelompok mereka. Setelah mendapat banyak pengikut mereka mulai berkelompok membentuk pasukan jihad dengan dilengkapi senjata, gerombolan ini bergerilya hendak melakukan pemberontakan pada pemerintahan pada masa itu. Dan karena sering bergerombol itulah masyarakat Kadudamas pada masa itu menyebutnya “GOROMOLAN” sebutan itu masih dipakai sampai sekarang, istilah Zaman Goromolan.

Pada masa itu masyarakat mendapat acaman dan tekanan yang luar biasa dari dua pihak sekaligus, dari Goromolan itu sendiri sekaligus dari Pemerintah dalam hal ini Tentara Nasional Indonesia. Oleh pemerintah masyarakat dituduh sebagai pemberontak yang melindungi organisasi tersebut, sebaliknya dari pihak kelompok DI (Goromolan) masyarakat dianggap suka membocorkan rahasia keberadaan mereka. Sehingga pada masa itu beberapa tokoh banyak yang jadi korban, diantaranya Kepala Desa pada masa itu Jaro Suma, beliau dibunuh dengan kejam, kepalanya dipenggal sepulang dari hajatan oleh Goromolan, adalagi tokoh agama bernama H. Iskak beliau kiayi terpandang di desa, menjadi sasaran salah tangkap ketika itu oleh TNI, beliau disangka sebagai pemberontak sehingga ditembak mati oleh  TNI pada masa itu. Bukan hanya itu, penderitaan warga diperparah dengan perampokan di sana-sini, beberapa kampung di desa dibakar sampai beberapa kali oleh gerombolan tersebut, mereka menganggap masyarakat berpihak pada Pemerintah.

Selain peristiwa memilukan di atas, cerita kelam kedua adalah sejarah terjadinya pembunuhan pereman pasar atau jawara oleh masa pada Tahun  2001, ketika itu Pemerintahan Desa  dipimpin oleh Jaro Marta Obing Sofyan. Masyarakat merasa tidak nyaman atas sepak terjang jawara tersebut yang sering memaksa minta (malak) dan memeras para pedagang di Pasar Desa. Puncaknya terjadi di hari  selasa bertepatan dengan hari pasar desa, jawara itu terbunuh diamuk masa.

Apa yang telah dialami Desa dimasalalu, merupakan rangkaiaan panjang cerita desa sebagai kekayaan sejarah dan asal-usul desa Kadudamas sebagai desa yang telah ada dari dulu. Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran bagi generasi selanjutnya dan tidak melupakan tokoh-tokoh, sejarah dan kearipan lokal dari Desa Kadudamas.